Selasa, 17 November 2020

Kematian Relawan Vaksin COVID-19 Sinovac di Brasil Disebut Bunuh Diri

 Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, saat ini dilaporkan menangguhkan uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac di San Paulo, Brasil. Alasan pemberhentian disebut adanya dugaan efek samping serius yang ditimbulkan vaksin COVID-19 buatan China tersebut.

Dikutip dari Reuters, pemerintah San Paulo, tempat uji klinis dilakukan, menyebut kematian relawan vaksin Sinovac merupakan kasus bunuh diri dan saat ini tengah diselidiki. Laporan polisi tentang insiden itu dilihat langsung oleh Reuters.


Penangguhan tersebut semakin meningkatkan ketegangan antara Presiden Brasil Jail Bolsonaro dan Gubernur San Paulo Joao Doria, yang telah menggantungkan ambisi politiknya pada vaksin China yang ia rencanakan untuk diluncurkan di negara bagiannya pada awal Januari, dengan atau tanpa bantuan federal.


Anvisa mengatakan akan terus melakukan penangguhan dan tidak memberikan indikasi berapa lama itu akan berlangsung. Anvisa menegaskan keputusan tersebut tidak terkait politik namun murni masalah teknis.


Menteri Kesehatan San Paulo, Jean Gorinchteyn, mengatakan kematian relawan tidak berhubungan dengan vaksin COVID-19 Sinovac.


"Kami memiliki peristiwa eksternal yang membuat regulator diberitahu. Vaksin ini aman,"kata Gorinchteyn.


Meski demikian pihak Anvisa mengatakan, informasi awal yang mereka terima tidak menyebutkan bahwa kematian relawan adalah kasus bunuh diri.


"Kami tidak punya pilihan selain menangguhkan uji klinis mengingat kejadian tersebut," kata kepala Anvisa, Antônio Barra Torres.


Sementara itu Dimas Covas, kepala lembaga penelitian medis Sao Paulo, Butantan, yang melakukan uji coba Sinovac, mengatakan vaksin itu tidak menunjukkan efek samping yang serius.

https://cinemamovie28.com/movies/sleepless/


Efektivitas Diklaim 90 Persen, Ini Bedanya Teknologi Vaksin COVID-19 Pfizer


 Vaksin Corona Pfizer diklaim memiliki efektivitas hingga 90 persen untuk mencegah COVID-19. Vaksin ini diketahui memiliki teknologi yang berbeda dibandingkan dengan vaksin lain.

Menurut pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo, vaksin Corona Pfizer ini memiliki teknologi rekayasa genetika yang bertujuan melihat genom RNA virus. Hal ini dimaksud untuk memungkinkan virus nantinya menyalin protein spike virus Corona, bagian terpenting.


"Nah nanti yang diberikan ke manusia itu sebetulnya mRNA dari spike, sehingga nanti itu saat masuk ke sel manusia itu, sel manusia itu sendiri kan nggak tahu ini tuh mRNA dari spike atau sel manusia, yang penting ada mRNA kan," jelasnya saat dihubungi detikcom Selasa (11/11/2020).


"Nah mereka langsung proses, akhirnya sel itu bisa memproduksi protein spike, nah ketika diproduksi akhirnya itu bisa menyalakan respons imun, atau antibodinya," lanjutnya.


Menurut Ahmad, hal inilah yang membuat proses pengembangan vaksin Corona dengan teknologi mRNA memakan waktu singkat. Ilmuwan hanya perlu membaca sequence genom terlebih dulu dan 3 minggu berselang bisa menghasilkan bahan genetik yang nantinya disuntikkan.


"Spike yang mana yang ternyata akan menimbulkan menjadi protein spike, karena protein spikenya adalah inti, yang diperlukan virus untuk masuk ke manusia," jelasnya.


Apa bedanya dengan vaksin Corona Sinovac?

Ahmad menjelaskan proses pengembangan vaksin Corona Sinovac menggunakan platform inactivated virus. Tahapan proses pembuatannya dimulai dengan memiliki jenis virusnya terlebih dahulu, dengan cara dikultur dalam laboratorium.


Ia menjelaskan virus yang disuntikkan ke manusia itu utuh yang dirusak atau dimatikan secara genetik dengan bahan kimia, suhu panas atau radiasi.


"Kalau kita lihat membangun vaksin itu kita harus punya virus benerannya dulu kan, kita isolasi, itu nanti kita kultur, kita perbanyak di laboratorium, itu full virusnya, nah cuma kalau misalnya sebelum diinjeksikan bahaya kalau full virus," sebutnya.


"Makanya kita beri zat kimia supaya materi genetik di virus itu rusak, karena tujuan dari vaksin itu kan menambahkan injeksi materi protein sebetulnya yang juga dikenal dengan sistem imun," pungkasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/sleeping-beauty/

Sentilan Satgas COVID-19 Soal Kerumunan Massa Sambut Kepulangan Habib Rizieq

 Pada Selasa (10/11/2020) kemarin, Habib Rizieq Syihab tiba di Indonesia, tepatnya di Bandara Soekarno-Hatta. Para pendukung Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut berbondong-bondong dan berkerumun untuk menyambut kedatangannya. Ini tentunya membuat mereka berkumpul dalam jumlah yang sangat besar.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, hal ini akan membuat masyarakat semakin sulit untuk mencegah risiko penularan virus Corona.


"Kerumunan menyulitkan kita untuk bisa jaga jarak, ditambah jika tidak menggunakan masker akan meningkatkan risiko penularan yang lebih besar lagi," ujar Prof Wiku saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.


Jika masyarakat terus lalai dan tidak peduli terhadap kondisi pandemi saat ini, lanjut Prof Wiku, penularan akan terus terjadi dan bisa membahayakan banyak nyawa. Tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga orang lain yang berada di sekitarnya.


"Saya imbau bagi seluruh elemen masyarakat agar memiliki kepedulian bahwa kita masih berada dalam kondisi pandemi COVID-19," kata Prof Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB.


Jika ikut melakukan atau terjebak dalam kerumunan, apa perlu melakukan isolasi mandiri?

Diwawancara secara terpisah, Dr Sholah Imari, MSc, dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), mengatakan tidak perlu melakukan isolasi mandiri, kecuali orang tersebut melakukan kontak erat dengan pasien positif COVID-19.


"Yang penting adalah kewaspadaan diri. Semua dari kita berisiko, ketika kita semakin banyak kontak dengan orang lain, maka akan semakin besar risiko tertular," jelasnya.


"Tindakannya, jangan menyembunyikan diri kalau misalnya dia sakit. Mesti konsultasi dan pemeriksaan sampai tuntas untuk memastikan dirinya tertular atau tidak," tegas Dr Sholah.

https://cinemamovie28.com/movies/seduction/


Kematian Relawan Vaksin COVID-19 Sinovac di Brasil Disebut Bunuh Diri


Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, saat ini dilaporkan menangguhkan uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac di San Paulo, Brasil. Alasan pemberhentian disebut adanya dugaan efek samping serius yang ditimbulkan vaksin COVID-19 buatan China tersebut.

Dikutip dari Reuters, pemerintah San Paulo, tempat uji klinis dilakukan, menyebut kematian relawan vaksin Sinovac merupakan kasus bunuh diri dan saat ini tengah diselidiki. Laporan polisi tentang insiden itu dilihat langsung oleh Reuters.


Penangguhan tersebut semakin meningkatkan ketegangan antara Presiden Brasil Jail Bolsonaro dan Gubernur San Paulo Joao Doria, yang telah menggantungkan ambisi politiknya pada vaksin China yang ia rencanakan untuk diluncurkan di negara bagiannya pada awal Januari, dengan atau tanpa bantuan federal.


Anvisa mengatakan akan terus melakukan penangguhan dan tidak memberikan indikasi berapa lama itu akan berlangsung. Anvisa menegaskan keputusan tersebut tidak terkait politik namun murni masalah teknis.


Menteri Kesehatan San Paulo, Jean Gorinchteyn, mengatakan kematian relawan tidak berhubungan dengan vaksin COVID-19 Sinovac.


"Kami memiliki peristiwa eksternal yang membuat regulator diberitahu. Vaksin ini aman,"kata Gorinchteyn.


Meski demikian pihak Anvisa mengatakan, informasi awal yang mereka terima tidak menyebutkan bahwa kematian relawan adalah kasus bunuh diri.


"Kami tidak punya pilihan selain menangguhkan uji klinis mengingat kejadian tersebut," kata kepala Anvisa, Antônio Barra Torres.


Sementara itu Dimas Covas, kepala lembaga penelitian medis Sao Paulo, Butantan, yang melakukan uji coba Sinovac, mengatakan vaksin itu tidak menunjukkan efek samping yang serius.

https://cinemamovie28.com/movies/ten-brothers/