Rabu, 18 November 2020

Efek Samping Vaksin COVID-19 Pfizer dan Perbandingannya dengan Sinovac

 Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Pfizer dan BioNTech, BNT162b2, diklaim 90 persen efektif. Meski belum ada jaminan tidak akan tertular virus, tetapi dari hasil tersebut menunjukkan bahwa orang yang menerima vaksin ini tertular, tidak akan sakit atau bergejala.

Seperti vaksin lainnya, vaksin virus Corona BNT162b2 buatan Pfizer ini masih terus diteliti terkait efektivitas dan efek sampingnya. Jika vaksin ini sudah lolos dari semua pemeriksaan keamanan, ini akan memiliki implikasi yang sangat besar dalam mengatasi virus tersebut.


Lalu, apakah vaksin BNT162b2 ini menimbulkan efek samping?

Berdasarkan keterangan para relawan yang mendapatkan suntikan pertama vaksin ini, mereka merasakan beberapa efek samping yang muncul. Beberapa orang dari total relawan sebanyak 43.500 ini mengalami efek samping seperti sakit kepala dan nyeri otot.


Relawan asal Austin, Texas, Glenn Deshields (44) mengungkapkan bahwa dirinya merasakan efek samping berupa 'pengar yang parah' dan rasa seperti mabuk. Tetapi, ia mengatakan efek ini hanya sementara dan hilang dengan cepat.


Relawan lainnya yaitu Carrie dari Missouri merasakan efek samping yang berbeda setelah mendapat suntikan vaksin pertamanya pada September lalu. Ia merasa sakit kepala, nyeri di tubuh, hingga demam.


"Efek sampingnya tampak meningkat setelah dosis kedua bulan lalu," jelasnya yang dikutip dari Express UK.


Meski saat pemberian vaksin para relawan tidak mengetahui apakah mereka menerima vaksin atau plasebo, Carrie yakin efek samping yang ia rasakan ini karena penyuntikkan tersebut


Bagaimana dengan vaksin COVID-19 lainnya?

Vaksin virus Corona lainnya yang dikembangkan oleh perusahaan Sinovac, CoronaVac yang diklaim aman berdasarkan data awal uji klinis tahap akhir di Brasil juga menimbulkan efek samping.


Meskipun data tentang seberapa efektif vaksin itu tidak akan dirilis sampai uji coba selesai pada 13.000 sukarelawan, direktur Butantan Dimas Covas mengatakan bahwa vaksin ini tidak menimbulkan efek samping yang parah.


Covas menjelaskan ada sekitar 20 persen relawan yang mengalami nyeri ringan akibat suntikan. Selain itu, 15 persen relawan merasakan sakit kepala setelah diberikan dosis pertama. Tetapi jumlah ini turun menjadi 10 persen untuk dosis kedua.


Sementara sebanyak 5 persen relawan lainnya melaporkan efek samping berupa mual, kelelahan, hingga nyeri otot.

https://nonton08.com/movies/bleach/


Sama-sama Diklaim 90 Persen Efektif, Ini Beda Vaksin Sputnik V dan Pfizer


Penelitian terkait vaksin virus Corona sampai saat ini masih terus dikebut. Bahkan sampai saat ini ada beberapa nama vaksin yang sudah masuk ke uji klinis tahap akhir dan tengah diuji pada manusia untuk mengetahui efektivitasnya.

Dari beberapa kandidat, ada dua vaksin COVID-19 yang sama-sama diklaim 90 persen efektif. Kedua vaksin tersebut yaitu BNT162b2 buatan Pfizer dan Sputnik V buatan Rusia.


Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui terkait kedua vaksin tersebut yang telah dirangkum detikcom.


1. Pengembang vaksin

- BNT162b2


BNT162b2 menjadi vaksin COVID-19 pertama diklaim 90 persen efektif. Vaksin tersebut dikembangkan oleh perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat Pfizer dan BioNTech.


Efektivitas vaksin hingga 90 persen pada vaksin Pfizer ini berdasarkan analisis sementara pada 94 peserta dalam uji coba pengembangan vaksin COVID-19, memeriksa berapa banyak dari mereka yang menerima vaksin versus plasebo.


- Sputnik V


Sementara Sputnik V dari Rusia, menjadi vaksin pertama ditemukan dan dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia. Vaksin ini juga diklaim 90 persen efektif cegah Corona.


"Dari pengamatan kami, jumlahnya juga lebih dari 90 persen. Kemunculan vaksin lain yang efektif, ini adalah kabar baik bagi semua orang," kata Oksana Drapkina, direktur lembaga penelitian di bawah kementerian kesehatan, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Channel News Asia.

https://nonton08.com/movies/mean-girls/

Diklaim 92 Persen Efektif, Ini Fakta-fakta Vaksin Sputnik V

  Vaksin COVID-19 Sputnik V, Rusia diklaim 92 persen efektif. Kabar ini menyusul laporan klaim efektivitas vaksin sebelumnya pada vaksin Pfizer yang juga dikembangkan perusahaan bioteknologi asal Jerman BioNTech.

"Data awal vaksin Sputnik V COVID-19 Rusia menunjukkan bahwa itu 92 persen efektif," kata dana kekayaan kedaulatan negara itu, dikutip dari Independent.


Hasil sementara Sputnik V didasarkan pada data dari 16.000 peserta uji coba pertama, yang menerima suntikan vaksin Sputnik V sebanyak dua dosis. Vaksin Sputnik V sempat menjadi sorotan dunia karena menjadi salah satu yang lebih dulu menyetujui penggunaan vaksin tersebut meski belum selesai uji klinis.


Apa saja fakta-fakta terkait vaksin Sputnik V? Berikut rangkuman detikcom dari berbagai sumber.


1. Uji klinis berlangsung singkat

Uji klinis vaksin Sputnik V berlangsung singkat. Uji coba pada manusia tahap pertama dimulai 17 Juni lalu. Kala itu ada 76 sukarelawan dan sebagian besar di antaranya adalah militer.


Tak berlangsung lama, pada 3 Agustus media lokal Rusia melaporkan Institut Gamaleya yang mengembangkan vaksin Sputnik V ini telah menyelesaikan uji klinis tetapi tak disebutkan uji klinis tahap berapa yang selesai.

https://nonton08.com/movies/peak-the-rescuers/


Berdasarkan laporan ini, vaksin Sputnik V hanya memakan waktu 2 bulan untuk uji klinis dan persetujuan penggunaan vaksin tak melibatkan tahap uji klinis ketiga.


2. Putri Putin ikut menerima vaksin

Presiden Putin menyebut salah satu dari dua putrinya sudah menerima dua suntikan vaksin Sputnik V.


"Dia telah mengambil bagian dalam eksperimen tersebut," kata Putin, dikutip dari Time.


Menurut Putin, efek samping yang dialami Putrinya usai disuntik adalah suhu 38 derajat Celcius. Namun, keesokan harinya turun menjadi 37 derajat Celcius.


Usai suntik kedua kalinya, dia kembali mengalami sedikit peningkatan suhu, tapi kemudian semuanya berakhir normal. Disebutkan, salah satu putrinya menyatakan dirinya sehat dan memiliki jumlah antibodi yang tinggi.


Namun, Putin tidak merinci yang mana di antara kedua putrinya, Maria atau Katerina, yang menerima suntikan vaksin.


3. Vaksin Sputnik V tuai banyak kritik

Vaksin Rusia Sputnik V menuai banyak kritik baik dari para ahli maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini berkaitan dengan uji klinis vaksin Sputnik V yang terbilang sangat singkat.


Muncul kekhawatiran terkait keamanan vaksin Sputnik V dari beberapa ahli kesehatan dunia.


"Vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat tidak etis," sebut Francois Balloux, seorang ahli di Institut Genetika Universitas College London.


4. Proses pembuatan vaksin

Vaksin Rusia didasarkan pada DNA adenovirus jenis SARS-CoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan untuk mengirimkan sebagian kecil patogen dan menstimulasi respons imun.


Alexander Gintsburg, direktur Pusat Penelitian Nasional Gamaleya, menyatakan bahwa partikel virus Corona dalam vaksin tersebut tidak dapat membahayakan karena tidak dapat berkembang biak.


5. Diklaim efektivitas 92 persen

Rusia mengklaim vaksin Corona Sputnik V 92 persen efektif melindungi orang dari COVID-19. Klaim ini berdasarkan hasil uji coba sementara vaksin Sputnik V.


"Analisis dilakukan setelah 20 peserta mengembangkan virus korona baru dan memeriksa berapa banyak yang telah menerima vaksin versus plasebo," kata Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang telah mendukung pengembangan vaksin, mengatakan pada hari Rabu.

https://nonton08.com/movies/jackals/