Jumat, 20 November 2020

Nyaris 200 Terinfeksi Corona dan 7 Meninggal dari Klaster Resepsi Pernikahan

 Sebuah studi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengungkap klaster COVID-19 yang berawal dari resepsi pernikahan. Ada ratusan orang tertular Corona dari resepsi pernikahan di Gereja Baptis Tri-Town dan resepsi pernikahan diadakan di Big Moose Inn.

Mulanya, studi CDC menyebutkan ada 147 orang yang tertular COVID-19 dari resepsi pernikahan tersebut. Sementara itu, 3 orang lainnya dinyatakan meninggal dunia.


Namun, angka penularan COVID-19 dari resepsi pernikahan yang digelar Agustus lalu, terus bertambah. Laporan CDC mencatat ada 177 orang tertular Corona dan korban meninggal menjadi 7 orang.


Berdasarkan laporan terakhir, sudah ada 178 orang yang tertular COVID-19 dari resepsi tersebut, korban meninggal masih tercatat 7 orang.


Mengapa penularan COVID-19 begitu luas dari resepsi pernikahan tersebut?

Ahli epidemiologi menjelaskan dalam sebuah laporan bahwa tamu resepsi duduk berdekatan dan tak memakai masker. Sebanyak 30 tamu pertama yang hadir di resepsi dinyatakan positif COVID-19.


Penyebaran semakin luas usai para tamu meninggalkan resepsi, menularkan COVID-19 ke warga lain di kota tersebut, 27 orang dinyatakan tertular Corona.


Bahkan, salah satu warga yang kontak dekat dengan tamu resepsi dinyatakan meninggal dunia usai terpapar COVID-19. Terus meluas, 36 orang lainnya menyusul dinyatakan positif COVID-19 di sebuah fasilitas perawatan.


Ternyata 36 orang ini tertular COVID-19 dari orang tua tamu, yang berada di fasilitas perawatan tersebut dan meninggal dunia. Tak berhenti di situ, 82 karyawan di sebuah perusahaan dinyatakan terinfeksi COVID-19. Apa yang terjadi?


Penularan COVID-19 pada 82 karyawan ini terjadi usai tamu resepsi yang ternyata tertular COVID-19 kembali bekerja di perusahaan tersebut. Akibatnya, puluhan karyawan terinfeksi Corona meskipun wilayah resepsi ke perusahaan tersebut berjarak 200 mil jauhnya.


"Sejauh ini, resepsi pernikahan yang satu ini telah dikaitkan dengan setidaknya 178 infeksi COVID-19, tujuh rawat inap, dan tujuh kematian," kata pejabat CDC Maine.


"Laporan ini memberikan kisah peringatan bagi orang-orang saat mereka mempertimbangkan bagaimana merayakan liburan musim dingin. Pertemuan di pusat wabah ini terjadi di daerah pedesaan yang hampir tidak terlihat bukti COVID-19," kata Robert Long, direktur komunikasi. untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Maine.

https://indomovie28.net/movies/my-best-friends-wife/


Viral Tips Sembuhkan COVID-19 dalam Waktu 5 Menit, Dokter Paru Pastikan Hoax!


 Viral video cara menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit di media sosial TikTok. Dalam video viral ini disebutkan penggunaan obat luka povidone iodine bisa menyembuhkan COVID-19 secara singkat.

"Tips menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit, pertama siapkan betadine mouthwash dan cotton bud, kedua tuangkan betadine secukupnya dan basahkan dengan cotton bud, bahan siap dipakai," sebut @nicputra dalam akun TikTok-nya.


"Ketiga oleskan perlahan ke seluruh bagian dalam rongga hidung secara merata, lakukan ini secara rutin maka COVID-19 kalian akan hilang," lanjut keterangan dalam video tersebut, dengan mencantumkan sumber berasal dari Hotman Paris.


Meski belakangan sudah dihapus dari akun TikTok tersebut, video tersebut sempat viral dibagikan di berbagai platform media sosial. benarkah cara ini bisa menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit?


Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto, SpP, menegaskan cara tersebut keliru atau tidak benar. Hingga saat ini, belum ada uji klinis terkait penggunaan povidone iodine untuk menyembuhkan COVID-19.


"Betadine (povidone iodine) dalam studi-studi di laboratorium dapat menurunkan viral load SARS-CoV-2. Tapi dalam penggunaannya pada manusia perlu uji klinis efektivitasnya," tegas dr Agus saat dihubungi detikcom Sabtu (14/11/2020).


Lebih lanjut, dr Agus menjelaskan virus Corona COVID-19 tak hanya berada di hidung. Namun lebih tepatnya di saluran napas atas lain dan bahkan di luar organ pernapasan.

https://indomovie28.net/movies/american-beauty/

Peneliti Ungkap 4 Gejala COVID-19 Ringan yang Wajib Diwaspadai

  Gejala COVID-19 yang kerap muncul seperti batuk, demam bahkan sesak napas masih diyakini para ahli sebagai gejala utama. Namun, tak sedikit pasien Corona mengalami gejala COVID-19 ringan.

Gejala COVID-19 ringan umumnya membuat pasien sulit mengenali tanda awal terinfeksi. Sebab, hingga saat ini gejala khas COVID-19 masih berdasarkan pada tiga gejala utama seperti batuk, demam, dan sesak napas.


Para peneliti menyebut gejala COVID-19 ringan ini perlu diwaspadai. Kondisi gejala COVID-19 ringan bisa memburuk jika tak segera diatasi, apa saja?


1. Sakit perut

Beberapa pasien COVID-19 mengidap sakit perut sebelum akhirnya mengeluhkan tiga gejala utama COVID-19 lainnya. Seperti yang dimuat dalam American Journal of Gastroenterology, penelitian menyebut ada 48,5 persen pasien COVID-19 mengalami gangguan di perut.


Studi menyebut masalah di perut akibat infeksi COVID-19 bisa menyebabkan diare. Hal ini berdasarkan analisis data 204 pasien COVID-19 di China.


Selain diare, pasien COVID-19 dilaporkan mengalami muntah-muntah.


"Namun, diare telah dilaporkan sebagai gejala awal pada pasien yang kemudian dinyatakan positif COVID-19," sebut pakar dari Inggris, Dr Diana Gall kepada Express UK.


2. Infeksi mata

Selain masalah di perut, dokter mengingatkan kemungkinan infeksi mata menjadi tanda awal terinfeksi COVID-19. Menurut laporan American Academy of Ophthalmology, ada sekitar 1 hingga 3 persen yang mengalami kondisi ini berkaitan dengan COVID-19.


"Mata merah adalah tanda 'paling penting' bahwa pasien mengidap COVID-19," jelas Chelsey Earnest, seorang perawat di Life Care Center di Washington.


"Mereka memiliki, seperti mata alergi. Bagian mata yang putih bukan merah. Ini lebih seperti mereka memiliki perona mata merah di bagian luar mata mereka," lanjutnya kepada CNN International.


Namun, bukan berarti setiap orang khawatir berlebihan dengan munculnya infeksi mata berkaitan dengan COVID-19. Sebab, ada banyak faktor yang bisa mendasari kondisi mata seperti itu.


"Jika Anda melihat seseorang dengan mata merah, jangan panik. Bukan berarti orang tersebut terinfeksi virus Corona," jelas studi American Academy of Ophthalmology.

https://indomovie28.net/movies/affair/


3. Kabut otak

'Kabut otak' biasanya merupakan gejala yang terkait dengan 'Long COVID' atau gejala berkepanjangan. Namun, beberapa pasien COVID-19 juga mengalami gejala ini sebagai tanda awal infeksi.


Thea Jourdan, salah satu pasien COVID-19, mengatakan kepada The Daily Mail, bahwa dia pertama kali mengira telah terinfeksi ketika merasakan ada yang aneh di tenggorokannya dan mengeluh sakit kepala.


"Awalnya saya merasa lelah, seolah-olah saya menyeret diri saya sendiri dan tidak punya pilihan selain pergi ke tempat tidur saya. Saya tidak batuk berarti dan saya tidak demam," keluhnya.


"Saya juga mengalami brain fog atau kabut otak. Saya bahkan tidak dapat mengisi formulir dari sekolah anak-anak. Saya hanya ingin tidur, sambil berusaha menjaga anak-anak agar aman dan jauh dari area karantina saya, kamar tidur saya," ungkapnya.


Tak hanya Thea, pasien COVID-19 lain juga mengalami kondisi ini. Adalah Christy, wanita asal Seattle yang menggambarkan bagaimana COVID-19 membuatnya sakit kepala, sinus, hingga kabut otak, seperti kesulitan untuk fokus mengerjakan sesuatu.


"Mereka yang mengalami ini akan dihadapkan pada ketidakmampuan 'melumpuhkan' untuk berpikir jernih," Dr Hilary Jones.


Kelelahan juga termasuk gejala COVID-19. Penjelasan ada di halaman berikut.


4. Kelelahan

Studi Organisasi Kesehatan Dunia mengamati tanda yang kerap umum dirasakan pasien COVID-19 selain batuk, demam dan sesak napas. Gejala COVID-19 umum lainnya yang paling sering dilaporkan adalah rasa lelah atau kelelahan.


Sekitar 38,1 persen pasien melaporkan gejala COVID-19 kelelahan dalam penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan pada 55.924 kasus yang dikonfirmasi positif COVID-19.


Para peneliti sebelumnya menggambarkan kelelahan sebagai salah satu gejala COVID-19 khas, di samping sakit kepala.


Sementara itu, sebuah studi terkait gejala COVID-19 menyebut gejala awal yang paling sering dialami pasien adalah sakit kepala, hingga 82 persen pasien COVID-19 mengalaminya. Disusul dengan kelelahan, ada 72 persen pasien COVID-19 mengalami gejala ini saat awal terpapar.


"Data kami menunjukkan bahwa gejala awal yang paling sering dialami sebenarnya adalah sakit kepala 82 persen dan kelelahan 72 persen, ini terjadi pada semua kelompok umur," ungkap para peneliti dalam COVID-19 Symptoms Study.


"Hanya 9 persen dari orang dewasa yang positif COVID berusia 18 hingga 65 tahun tidak mengalami sakit kepala atau kelelahan," lanjut para peneliti.

https://indomovie28.net/movies/halloween-at-aunt-ethels/