Rabu, 25 November 2020

Kasusnya Meningkat, Kondisi Fatal Ini Dipicu Kebiasaan Bawa Ponsel Saat BAB

  Di zaman sekarang, susah sekali rasanya lepas dari ponsel. Bahkan saat buang air besar, hampir semua orang tidak pernah lupa membawa perangkat tersebut.

Walau menguntungkan karena bisa multitasking, para dokter mengingatkan bahayanya. Tahun lalu, ahli pencernaan di Sydney Prof Chris Berney melakukan operasi haemorrhoid thrombectomy pada wanita 23 tahun yang mengalami wasir parah.


"Saya tanya berapa lama menghabiskan waktu di toilet, dan sekejap saya menyadari bahwa orang-orang ini akan menghabiskan 20 menit, 25 menit, setengah hingga sejam rata-rata," katanya kepada News Corp Australia, dikutip dari News.com.au.


Saat seseorang berlama-lama jongkok di toilet, umumnya karena asyik main gadget, spinchter atau katup di dubur akan bekerja lebih keras dan penggumpalan darah bisa terjadi. Wasir atau haemorrhoid bisa terbentuk saat tekanan di area tersebut meningkat.


Prof Berney mengingatkan bahwa wasir pada masa kini kemungkinan besar disebabkan oleh duduk terlalu lama di toilet. Peringatan itu ia sampaikan dalam tulisan di jurnal Australia New Zealand Surgery.


Mengutip sebuah studi di AS, Prof Berney menyebut 9 dari 10 orang menggunakan ponselnya saat berada di toilet. Pendapat itu diperkuat dengan hasil sebuah penelitian lain di Turki mengaitkan penggunaan ponsel di toilet dengan wasir.


Di kalangan Gen Z yang lahir antara tahun 1995-2010, teramati 95 persen tidak lupa membawa ponsel saat ke kamar mandi.

https://kamumovie28.com/movies/deeply/


Ini Jenis Masker Kain 3 Lapis yang Direkomendasikan dr Reisa


Mengenakan masker setiap beraktivitas di luar rumah adalah protokol kesehatan yang wajib diterapkan. Juru Bicara Satgas COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro menjelaskan virus SARS-COV-2 yang menyebabkan COVID-19 tidak dapat dilihat.

Selain itu, tak mudah juga mengetahui siapa saja orang di sekitar kita yang membawa virus tersebut. Inilah kenapa muncul istilah OTG atau orang tanpa gejala meski terinfeksi virus Corona.


"Oleh karena itu, memakai masker menjadi salah satu cara efektif mencegah penularan," kata dokter Reisa dikutip dari tayangan video BNPB.


Ia melanjutkan efektivitas memakai masker dengan baik dan benar bisa menekan peluang penularan COVID-19 hingga lebih dari 50 persen. Berdasarkan penelitian inilah masyarakat diwajibkan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah selama pandemi.


Ada beberapa jenis masker yakni masker medis, lanjutnya, yaitu masker bedah atau masker N95, yang ditujukan untuk keperluan medis. Misalnya untuk tenaga kesehatan, orang sakit, dan orang yang merawat orang sakit.


"Selanjutnya, masker nonmedis, yaitu masker kain. Orang sehat cukup menggunakan masker kain," ujarnya.


Dokter Reisa menjelaskan masker kain yang direkomendasikan adalah yang memiliki tiga lapisan. Hasil penelitian baru mengidentifikasi jenis kain, jumlah lapisan, dan komposisi masker kain nonmedis.


Berikut tiga lapisan masker kain yang direkomendasikan.


Lapisan dalam berupa bahan penyerap seperti katun.

Lapisan tengah berupa bahan tanpa tenun seperti polipropilena.

Lapisan luar berupa bahan yang tidak mudah menyerap air seperti poliester atau campuran poliester.

Nah itu dia penjelasan dr Reisa tentang masker kain yang direkomendasikan untuk mencegah penularan COVID-19. Jangan lupa juga, selalu #ingatpesanibu untuk #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan dan #cucitanganpakaisabun sesuai imbauan #satgascovid19.

https://kamumovie28.com/movies/the-deep/

Swab PCR Vs Swab Antigen yang Dilakukan Lurah Petamburan, Ini Bedanya

  Swab antigen belakangan ini banyak diperbincangkan setelah Lurah Petamburan, Jakarta Pusat, dinyatakan reaktif COVID-19 melalui tes ini. Belakangan, ia terkonfirmasi positif melalui swab PCR.

Sebenarnya, apa itu swab antigen dan apa bedanya dengan swab PCR maupun rapid test?


dr Thyrza Laudamy Darmadi SpPK, spesialis patologi klinik dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya menjelaskan swab antigen berbeda dengan rapid test. Disebutkan, rapid test umumnya mendeteksi antibodi COVID-19 pada tubuh, sedangkan swab antigen mendeteksi protein virus.


Beda swab antigen dengan swab PCR

Metode pengerjaan tes COVID-19 swab antigen dalam mengambil sampel mirip dengan RT PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction), yaitu mengambil sampel dalam hidung dan tenggorokan. Namun, swab antigen hanya mampu mendeteksi virus saat jumlah virus tersebut tinggi.


"Jadi si antigen ini mampu mendeteksi ketika jumlah virus si pasien tersebut tinggi, tetapi ketika jumlah virusnya tidak terlalu tinggi, jadi CT (cycle threshold) valuenya di atas 25 atau di atas 30, antigen itu bisa akan negatif," jelas dr Thyrza saat ditemui detikcom di RSPI Bintaro Jaya Jumat (20/11/2020).


"Padahal sebenernya, pasien tersebut mengandung virus tersebut, mengandung virus COVID-19 itu, gitu, jadi kurang sensitif untuk mendeteksi dibandingkan dengan PCR," lanjutnya.


Perbedaan lainnya, RT-PCR membutuhkan laboratorium khusus dengan kualifikasi bio safety level (BSL) 2.


Beda swab antigen dengan rapid test

Meskipun hasilnya sama-sama dinyatakan sebagai reaktif dan non reaktif, proses pembacaan hasil pada kedua tes COVID-19 baik swab antigen dan rapid test memakan waktu berbeda.


Hasil rapid test keluar dalam waktu 15 menit, sementara swab antigen baru bisa menunjukkan hasil setidaknya 30 menit usai dites.


Sampel yang digunakan pun berbeda, swab antigen mengambil sampel pada hidung dan tenggorokan sama seperti RT PCR, sementara rapid test mengambil darah pasien.


Tes COVID-19 swab antigen baik diperiksa saat minggu pertama usai timbul gejala. Sementara rapid test lebih baik digunakan saat minggu kedua usai timbul gejala atau lebih dari 7 hari.


"Perbandingan akurasi rapid antigen dan rapid antibody tidak dapat dibandingkan karena time frame penggunaannya berbeda antara rapid antigen dan rapid antibody. Pada minggu pertama lebih sensitif dan akurat test rapid antigen dibandingkan antibodi untuk menunjukkan seseorang terkena COVID-19 atau tidak," pungkasnya.

https://kamumovie28.com/movies/deep/


Kasusnya Meningkat, Kondisi Fatal Ini Dipicu Kebiasaan Bawa Ponsel Saat BAB


 Di zaman sekarang, susah sekali rasanya lepas dari ponsel. Bahkan saat buang air besar, hampir semua orang tidak pernah lupa membawa perangkat tersebut.

Walau menguntungkan karena bisa multitasking, para dokter mengingatkan bahayanya. Tahun lalu, ahli pencernaan di Sydney Prof Chris Berney melakukan operasi haemorrhoid thrombectomy pada wanita 23 tahun yang mengalami wasir parah.


"Saya tanya berapa lama menghabiskan waktu di toilet, dan sekejap saya menyadari bahwa orang-orang ini akan menghabiskan 20 menit, 25 menit, setengah hingga sejam rata-rata," katanya kepada News Corp Australia, dikutip dari News.com.au.


Saat seseorang berlama-lama jongkok di toilet, umumnya karena asyik main gadget, spinchter atau katup di dubur akan bekerja lebih keras dan penggumpalan darah bisa terjadi. Wasir atau haemorrhoid bisa terbentuk saat tekanan di area tersebut meningkat.

https://kamumovie28.com/movies/kutuk/