Rabu, 14 Oktober 2020

Kasus COVID-19 RI Naik 5,9 Persen dalam Sepekan, Jateng-Jabar Tertinggi

 Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan adanya kenaikan kasus positif virus Corona di Indonesia selama sepekan terakhir. Kenaikannya mencapai 5,9 persen, setelah sempat mengalami penurunan sebelumnya.

"Pada tingkat nasional setelah minggu lalu terjadi penurunan kasus positif, ternyata di minggu ini kembali terjadi kenaikan kasus positif sebanyak 5,9 persen. Ini adalah hal yang seharusnya kita sama-sama hindari. Kasus positif seharusnya menurun setiap harinya," kata Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers di YouTube BNPB, Selasa (13/10/2020).


Lebih lanjut, Wiku menyebut beberapa provinsi di Indonesia yang mengalami kenaikan kasus COVID-19 selama sepekan terakhir, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Barat, Papua Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.


Saat ini, Selasa (13/10/2020), total kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 340.622 kasus. Sementara total pasien sembuh sudah sebanyak 263.296 dan 12.027 lainnya meninggal dunia.


Berikut detail 5 provinsi dengan kenaikan kasus positif COVID-19 tertinggi selama sepekan terakhir.


Jawa Tengah naik 499 kasus, dari 2.138 menjadi 2.637

Jawa Barat naik 383 kasus, dari 2.959 menjadi 3.342

Papua Barat naik 314 kasus, dari 356 menjadi 670

Sulawesi Selatan naik 277, dari 607 menjadi 884

Sulawesi Tenggara naik 204, dari 302 menjadi 506

https://nonton08.com/hacksaw-ridge/


Tak Percaya Hasil Lab, 2 Pasien COVID-19 di Brebes Meninggal Usai Pulang Paksa


Dua pasien positif COVID-19 asal Brebes, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah pulang paksa dari rumah sakit. Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, menyebut, pasien ini memaksa pulang karena tidak percaya hasil laboratorium dan menganggap rumah sakit telah men-COVID-kan pasien.

Rumor mengenai isu rumah sakit banyak men-COVID-kan pasien, sedikit banyak telah mempengaruhi pikiran warga. Dampak paling banyak yang muncul adalah, pasien dan keluarga tidak mempercayai hasil laboratorium dan meminta pulang paksa meski hasil swab menyatakan positif.


Kondisi ini terjadi di Brebes, Jawa Tengah. Ada dua orang yang dinyatakan positif, namun tidak mempercayai hasil uji swab. Pasien kemudian memaksa pulang lantaran beranggapan telah di-COVID-kan oleh rumah sakit. Akibatnya, mereka meninggal dunia setelah beberapa hari berada di rumah.


Kepala Dinas Kesehatan Brebes, dr Sartono mengungkapkan, dua pasien positif COVID-19 yang meninggal setelah pulang paksa adalah L, Warga Desa Kemurang, Kecamatan Tanjung dan M (43) warga Kecamatan Ketanggungan.


"Intinya, dua pasien dan keluarganya ini tidak percaya hasil laboratorium. Dikiranya rumah sakit ini meng-COVID-kan. Jadi mereka minta pulang paksa. Namun apa yang terjadi, dua duanya meninggal dunia," ungkap Sartono kepada wartawan di lantornya, Selasa (13/10/2020) siang.


Lebih jelas, Sartono merinci, pasien L adalah wanita yang mengeluhkan gejala klinis batuk sesak nafas. Wanita ini kemudian dirawat di RSUD Kardinah Kota Tegal. Setelah dilakukan uji swab hasilnya menunjukkan positif corona.


"Namun, baik pasien dan keluarganya tidak percaya. Seakan akan, rumah sakit telah meng-COVID-kan. Terus pasien ngotot ingin pulang dengan alasan status positif corona hanya akal akalah pihak rumah sakit yang suka meng-COVID-kan," beber Sartono.


Pasien lain yang meninggal setelah pulang paksa adalah Nyonya M (43) warga Kecamatan Ketanggungan. Awalnya, dia dirawat di RS Bhakti Asih karena mengalami gejala batuk, flu dan demam tinggi.


Setelah dilakukan uji swab, pihak rumah sakit menyatakan, Nyonya M terkonfirmasi positif corona. Meski positif, pihak pasien tidak percaya dan minta segera pulang dengan alasan kondisinya sudah membaik.


"Keluarga ini tidak percaya dan memaksa pulang. Alasannya karena kondisi badan sudah mulai membaik. Padahal, pasien ini masih perlu perawatan medis. Kalau dia merasa lebih baik itu karena faktor masuknya oksigen saat di rumah sakit," terang Sartono.


Penolakan terhadap hasil laboratorium ini, kata Kepala Dinkes Brebes, terus berlanjut. Anggota keluarga yang terlibat kontak erat dengan pasien M ini menolak saat akan dilakukan tracing. Mereka tetap menganggap hasil swab ini merupakan akal akalan pihak rumah sakit.


"Laporan petugas di lapangan, mereka tidak mau mengikuti tracing, tidak mau diperiksa. Alasannya ya itu tadi, menganggap hasil uji swab hanya akal-akalan," pungkasnya.

https://nonton08.com/attack-on-titan/

Minggu, 11 Oktober 2020

Pakar Jelaskan Alasan Pasien COVID-19 yang Panik Lebih Lama Sembuh

 Spesialis Paru dan Konsultan Intensivist dan Gawat Nafas di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Dr. Dewiyana Andari Kusmana, SpP (K) mengatakan pasien yang tenang begitu divonis positif COVID-19 akan lebih cepat sembuh dibanding yang panik atau gelisah.

Dewiyana menjelaskan alasan mengapa pasien yang panik dan gelisah akan lebih lama sembuh. Menurutnya, jika gelisah terus maka semakin tegang dan semakin banyak penyakit lain yang dimunculkan.


"Jangan panik, yang membuat hormon berantakan, lambung iritasi, nadi hipertensi, psikis gelisah. Itu mengacaukan semuanya," papar Dewiyana seperti dilansir dari situs covid19.go.id, Minggu (11/10/2020).


Pernyataan ini disampaikan dalam talkshow 'Pentingnya Iman, Aman, dan Imun' di Media Center Satgas COVI-19 Graha BNPB, Jakarta. Dewiyana juga menunjukkan penelitian awal pada pasien COVID-19 yang tidur cukup dan di bawah pukul 21.00 WIB itu antibodinya mudah terbentuk sehingga lebih cepat sembuh.


Salah seorang penyintas COVID-19, Turyono membagikan pengalaman dirinya bisa terbebas dari virus Corona tanpa mengonsumsi suplemen atau vitamin yang disiapkan rumah sakit. Terapi yang dia lakukan adalah olahraga, bernyanyi, dan berdoa.


"Kita memang harus berhati-hati. Tapi yang berbahaya dari virus corona ini sesungguhnya roh ketakutan yang dihembuskan. Sehingga orang yang terpapar imunitas tubuhnya jadi turun," ujar Turyono.


Awalnya ia mengaku sempat takut sehingga di rumah sakit hanya tidur satu jam setiap malam. Dampaknya muncul penyakit lain seperti darah tinggi akibat kurang tidur. Ia mengutarakan pesan dari dokter spesialis yang menanganinya, yakni untuk tetap tenang, bersuka cita, dan gembira yang dapat menjadi obat untuk kesembuhannya.


"Kalau kita bersuka cita, bergembira, itu akan menjadi support. Makanya saya hanya istirahat, olahraga, bernyanyi, dan berdoa. Itu sebagai pengganti infus semangat yang membuat saya kuat," papar Turyono.


Jadi, bagi yang terpapar COVID-19 jangan panik, melainkan harus selalu berpikir positif dan tetap tenang. Selain itu bagi yang belum terpapar, selalu #IngatPesanIbu seperti yang dijelaskan #SatgasCOVID19 untuk menerapkan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

https://cinemamovie28.com/from-vegas-to-macau/


Game Viral Among Us Bisa Picu Impostor Syndrom, Benar Nggak Sih?


Istilah 'impostor' belakangan viral di media sosial karena game among us. Karakter impostor dalam game among us adalah pembunuh dan suka mengelabui karakter lainnya.

Meski begitu, apakah karakter impostor dalam game Among Us ini sama dengan impostor syndrome? Bedakah kriteria impostor dalam game among us dan impostor syndrome?


Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate mengatakan bahwa istilah impostor syndrome ini sebenarnya tidak secara resmi ada. Istilah impostor syndrome dibuat oleh orang awam dan kriterianya menjadi tidak jelas.


"Bisa jadi dibuat oleh orang awam, yang satu contoh kriteria 'adalah orang yang merasa tidak percaya diri, tidak memenuhi ekspektasi, menjadi insecure, merasa bersalah, apabila dia mendapatkan pengakuan, menutup diri," papar Kasandra, saat ditemui detikcom, Jumat (2/10/2020).


Namun untuk kriteria dalam game Among Us yang berada di masyarakat memiliki definisi berbeda. Dijelaskan oleh Kasandra, kriterianya bisa jadi jenius, perfectionist, ada perilaku melakukan kejahatan karena terdorong mengekspresikan diri.


Kasandra memberi contoh, jika seorang ayah meyakini bahwa anaknya mengalami impostor karena dia membaca artikel, bahwa impostor yang ia baca dalam artikel kriterianya adalah anak yang merasa tidak percaya diri, lalu kemudian merasa tidak pantas, itu akan sangat berbahaya karena sebenarnya makna dari impostor syndrom itu sendiri tidak bisa dikaitkan dengan game Among Us.


"Jika seorang ayah ini melihat kriteria anak pada game (among us) pasti akan kaget, karena kriterianya sangat mengerikan, sampai bisa melakukan kejahatan," tambah Kasandra.


Kasandra juga menyarankan kepada masyarakat untuk lebih cermat dalam menggunakan istilah. Untuk meyakini sebuah diagnosa harus melalui pemeriksaan yang memang sesuai standar dan dilakukan oleh ahli yang memiliki kompetensi.


"Karena ketidakbakuan dari penegakan syndrome ini, itu yang membuat akhirnya hanya menjadi istilah yang digunakan oleh masyarakat, dan masyarakatpun sering kali secara mudah melakukan self diagnosis," pungkas Kasandra.


Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa cek selengkapnya di sini ya.

https://cinemamovie28.com/lemon-tree-passage/