Senin, 23 November 2020

Suka Merekam Diri Sendiri Saat Berhubungan Seks? Mungkin Ini Penyebabnya

  Belakangan video syur yang viral di media sosial, disebut-sebut mirip Gisella Anastasia alis Gisel dan beberapa artis lain, tengah banyak diperbincangkan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan, mengapa sih ada orang yang suka merekam diri sendiri saat berhubungan intim?

Menurut pakar seks, kebanyakan orang penasaran dengan tampilan diri mereka saat berhubungan seks. Mereka sering menaruh handphone tidak jauh dari jangkauan mereka, lalu merekam dirinya sedang masturbasi, dan mengirimkannya kepada pasangannya.


"Semakin banyak orang yang merekam diri mereka saat berhubungan seks dengan pasangannya karena itu menyenangkan. Pasangan yang menonton rekaman diri mereka saat bercinta merasa terhibur dan kembali melakukannya karena dianggap menggairahkan," ungkap Annabelle Knight, seorang pakar seks dan hubungan.


Annabelle merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi alkohol saat merekam diri sendiri kala berhubungan seks. Hal ini demi memastikan ia secara sadar melakukan hal tersebut.


Menurutnya, hal ini juga untuk menghindari kejadian merugikan seperti penyebaran video oleh salah satu pihak tanpa adanya izin untuk menyebarkan.


Bagi orang yang sering menonton pornografi di media sosial, menyaksikan diri saat berhubungan seks merupakan kepuasan bagi diri sendiri. Untuk itu, mereka coba mempraktikannya saat bercinta dengan pasangan."Mungkin kita semua adalah orang narsisis: kita semua ingin melihat diri kita sendiri sebagai seksual, dan dengan memfilmkan diri kita sendiri, kita dapat melakukannya secara berulang kali," ucap Stu Nugent, seorang pakar seks dalam wawancaranya dengan Metro.co.uk.


Faktanya, bagi orang-orang dengan kecenderungan ini, melihat rekaman diri mereka yang sedang berhubungan seks dapat menjadi tantangan bagi narsisme mereka. Realitas penampilan tubuh dan kecakapan seksual mereka mungkin tidak sesuai dengan versi ideal dalam pikiran mereka.


Intinya, proses merekam saat berhubungan seks harus disetujui oleh kedua belah pihak. Jadikan rekaman itu sebagai alat untuk membangkitkan gairah seks, bukan untuk merugikan salah satu pihak.

https://tendabiru21.net/movies/sexual-life/


Vaksin COVID-19 Dibuat Lebih Cepat, Amankah?


Dalam waktu dekat, program vaksinasi COVID-19 di Indonesia akan dilakukan. Presiden Joko Widodo tengah mengusahakan agar vaksinasi bisa dilakukan pada akhir 2020 atau awal 2021.

"Kalau melihat tadi di lapangan dan melihat simulasi tadi, kita memperkirakan kita akan mulai vaksinasi di akhir tahun atau di awal tahun, akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021," kata Jokowi setelah berkunjung ke Puskesmas Tanah Sareal, Bogor, seperti disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (18/11/2020).


Meski begitu, sebagian masyarakat masih ada yang menolak untuk melakukan vaksinasi. Salah satu alasannya, karena vaksin COVID-19 dibuat sangat cepat dan khawatir tidak aman.


Dalam proses pembuatannya, vaksin memang biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni bisa 10-12 tahun. Sedangkan, vaksin COVID-19 yang saat ini sedang dikerjakan bisa selesai dalam waktu sekitar satu tahun.


Apakah vaksin COVID-19 benar-benar aman?

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Dr dr Hindra Irawan Satari mengatakan, meski vaksin COVID-19 dibuat dengan sangat cepat, tetapi dalam proses pembuatannya wajib memenuhi syarat-syarat keamanan.


"Tetap ada syaratnya. Jadi tidak dibiarkan terlepas dan tidak diamati serta diikuti," ucap Prof Hindra dalam konferensi pers di kanal FMB9, Kamis (19/11/2020).


"Mungkin berbeda pada rancangan vaksin biasa. Pada vaksin emergency ini khususnya dukungan biaya, dukungan sarana, dukungan tenaga lebih dipenuhi, sehingga proses-proses yang lebih panjang itu bisa dipersingkat," tambanya.


Prof Hindra menjelaskan, persyaratan ini telah terstandarisasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di banyak negara.


Selain itu, pihak BPOM setempat termasuk Indonesia tidak akan mengeluarkan emergency use authorization (EUA) atau penggunaan darurat untuk penggunaan vaksin COVID-19 sebelum syarat-syarat tersebut terpenuhi.


"BPOM setempat tidak akan mengeluarkan emergency use authorization sebelum syarat-syarat (terpenuhi). Meskipun dipercepat, tapi syarat-syarat itu harus ada yang dipenuhi," jelasnya.

https://tendabiru21.net/movies/strictly-sexual/

Daftar Update Terkini Vaksin COVID-19, Mana yang Paling Menjanjikan?

 Kasus penularan virus Corona COVID-19 di dunia masih belum menunjukkan penurunan angka infeksi. Total hingga pagi ini, virus Corona sudah menginfeksi lebih dari 56 juta jiwa di dunia, 1 juta di antaranya meninggal, dan sembuh 39 juta jiwa.

Meski demikian, Vaksin untuk virus Corona COVID-19 masih terus dikembangkan oleh para ilmuwan di berbagai negara. Beberapa di antaranya sudah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan.


Dikutip dari berbagai sumber, berikut daftar update terkini vaksin COVID-19.


1. Pfizer

Dikutip dari laman Reuters pada Rabu (18/11/2020), Pfizer mengumumkan bahwa hasil akhir uji klinis tahap akhir vaksin COVID-19 buatannya menunjukkan efektivitas 95 persen. Dalam hitungan hari, izin penggunaan darurat akan didaftarkan dalam beberapa hari ke depan.


Efikasi atau kemanjuran vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama BioNTech asal Jerman ini menunjukkan konsistensi pada sebaran demografi umur dan etnis. Tidak ada efek samping yang serius yang dilaporkan, pertanda bahwa imunisasi bisa dilakukan secara luas di dunia.


Temuan lain yang cukup memuaskan dari uji klinis vaksin ini adalah pada usia di atas 65 tahun, efikasi tercatat 94 persen. Kelompok ini merupakan yang paling rentan terhadap risiko COVID-19.


2. Moderna

Menyusul Pfizer dan BioNTech, perusahaan farmasi Moderna mengumumkan hasil awal uji klinis vaksin COVID-19 buatannya. Efektivitas vaksin tersebut diklaim mendekati 95 persen.


Uji klinis melibatkan 30 ribu relawan di Amerika Serikat. Analisis awal didasarkan pada 95 relawan pertama yang menunjukkan gejala COVID-19. Dari jumlah tersebut, hanya 5 yang berasal dari kelompok penyuntikan vaksin dan sisanya 90 relawan berasal dari kelompok plasebo.


"Efektivitas keseluruhan luar biasa. Ini hari luar biasa," kata Tal Zaks, chief medical officer Moderna, dikutip dari BBC News, Senin (16/11/2020).


Meski demikian, hasil analisis awal ini masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Di antaranya, berapa lama imunitas akan bertahan, masih harus diamati lebih lanjut.

https://tendabiru21.net/movies/on-the-basis-of-sex/


3. Sinovac

Perkembangan vaksin COVID-19 kembali menyampaikan kabar baik. Kali ini, hasil awal uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac asal China, CoronaVac, berhasil memicu respons imun yang cepat.


Namun, catatannya tingkat antibodi yang dihasilkan lebih rendah daripada antibodi dimiliki seseorang pasca pulih dari COVID-19. Dikutip dari laman Reuters, hasil awal uji coba vaksin COVID-19 ini disampaikan pada Rabu.


Para peneliti menyebut hasil awal uji klinis vaksin COVID-19 tersebut dapat menunjukkan perlindungan yang cukup. Sementara itu, CoronaVac dan empat vaksin eksperimental lainnya yang dikembangkan di China saat ini sedang menjalani uji coba tahap akhir untuk menentukan apakah benar efektif mencegah COVID-19.


Temuan Sinovac dimuat dalam makalah peer reviewed di jurnal medis The Lancet Infectious Diseases, berdasarkan hasil uji klinis Fase I dan Fase II vaksin COVID-19 di China yang melibatkan lebih dari 700 peserta.


4. Sputnik V

Vaksin asal Rusia Sputnik V mengatakan efektivitas vaksin Corona mereka juga melebihi 90 persen. Namun, vaksin Corona asal Rusia ini sempat mendapat sorotan dari berbagai ahli termasuk WHO terkait keamanannya karena dinilai terburu-buru saat memberikan izin penggunaan beberapa waktu lalu.


Sputnik V menjadi vaksin pertama ditemukan dan dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia.


"Dari pengamatan kami, jumlahnya juga lebih dari 90 persen. Kemunculan vaksin lain yang efektif, ini adalah kabar baik bagi semua orang," kata Oksana Drapkina, direktur lembaga penelitian di bawah kementerian kesehatan, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Channel News Asia.


Dalam jurnal yang diterbitkan The Lancet, efek samping vaksin Sputnik V mengembangkan beberapa gejala ringan pada subjek penelitian. Setengah dari subjek peneliti mengalami demam dan 42 persen mengalami sakit kepala dan 28 persen lainnya mengeluh kelelahan, 24 persen lain mengalami nyeri sendi.


5. Oxford AstraZeneca

Satu lagi kandidat vaksin COVID-19 menunjukkan hasil menjanjikan. Dikutip dari Reuters, data terbaru uji klinis vaksin Oxford-AstraZenecac menunjukkan adanya respons kekebalan pada lansia, kelompok yang paling rentan terhadap komplikasi COVID-19.

https://tendabiru21.net/movies/sex-the-city-and-me/