Kamis, 26 November 2020

COVID-19 Belum Terkendali, Malaysia: Don't Balik Kampung!

  Seperti halnya negara lain di dunia, Malaysia juga masih bergelut dengan pandemi virus Corona COVID-19. Mengantisipasi pergerakan manusia, pejabat setempat sampai menyerukan: Don't balik kampung!

Seruan ini disampaikan direktur jenderal kesehatan Malaysia, Tan Sr Dr Noor Hisham Abdullah dalam sebuah konferensi pers. Pesan ini terkhusus disampaikan bagi warga yang berada di zona merah, dan dikecualikan ada urusan darurat.


"Well our advice is don't 'balik kampung'," katanya, dikutip dari The Star, Selasa (24/11/2020).


Malaysia memberlakukan pembatasan conditional movement control order (CMCO) yang melarang pergerakan warga antar distrik maupun negara bagian. Meski demikian, dalam praktiknya masih banyak warga yang bepergian.


Dikutip dari Worldometers.info, Malaysia hingga saat ini mencatatkan 56.659 kasus positif dengan kematian sebanyak 337 kasus. Jumlah pasien sembuh tercatat 42.480 kasus.

https://nonton08.com/movies/avengers-infinity-war/


Dialami Helmy Sungkar Sebelum Meninggal, Ini Cara Cegah Stroke Sejak Dini


 Helmy Sungkar, tokoh otomotif nasional meninggal dunia hari ini pagi pukul 06.10 WIB. Menurut keterangan anaknya, Rifat Sungkar, ia meninggal dunia usai mengalami stroke yang cukup berat.

"Sepertinya ini adalah yang terbaik dari semuanya. Karena Papa juga sudah mengalami hal yang berat untuk kehidupannya. Penyakitnya cukup berat, yaitu stroke untuk yang ke-11 kalinya," kata Rifat dalam video yang diunggah di Instagram Stories Rizal Sungkar, Selasa (24/11/2020).


Stroke juga umumnya disebut dengan penyakit silent killer. Hal ini disebabkan karena stroke datang secara mendadak sehingga pasien seringnya tak mendapat pertolongan karena stroke tak memiliki gejala khusus.


Selain itu, usia muda juga bukan berarti bebas dari stroke. Namun, semakin tua semakin tinggi risiko mengidap stroke.


Ada berapa kebiasaan yang bisa mencegah beberapa penyakit stroke. Salah satunya ruting mengontrol tekanan darah.


1. Rutin mengontrol tekanan darah

Saat tekanan darah tinggi, risiko terkena stroke meningkat. Sebisa mungkin untuk mulai mengurangi asupan garam, lemak dan rutin mengontrol tekanan darah ke dokter.


Lebih baik lagi jika kamu juga rutin melakukan medical check up, agar kondisi tubuh bisa diketahui secara jelas.


2. Menghentikan kebiasaan merokok

Ada beragam risiko yang bisa timbul dari kebiasaan merokok, salah satunya stroke. Bahkan, perokok dua kali lipat berisiko terkena stroke karena kandungan nikotin berbahaya bagi jantung.


Merokok bisa membuat darah lebih kental sehingga adanya penimbunan plak di pembuluh darah. Hal ini menyebabkan aliran darah dan oksigen ke otak lantas terhambat sehingga terkena stroke.


3. Olahraga dan banyak bergerak

Rutin menyisihkan waktu untuk banyak bergerak dan olahraga bisa menurunkan risiko terkena stroke. Mulailah untuk sekedar berjalan santai, bersepeda hingga memperbanyak gerak dengan naik turun tangga.


Jika kamu banyak bergerak dan olahraga, tingkat kolesterol dan tekanan darah akan menurun.


4. Memperbanyak konsumsi sayur

Memperbanyak konsumsi sayur juga bisa mengurangi risiko berbahaya seperti stroke, diabetes dan obesitas hingga kolesterol. Sedini mungkin mulai kurangi makanan yang tinggi kolesterol, lemak, dan garam.


5. Menjaga berat badan

Menjaga berat badan tubuh ideal tak hanya baik untuk penampilan, salah satu faktor penyebab stroke juga bisa karena obesitas atau kelebihan berat badan.


Lagi-lagi, memperhatikanasupan yang dikonsumsi tiap hari menjadi kunci utama agar terhindar dari stroke sedini mungkin.

https://nonton08.com/movies/stand-by-me/

Mengenal Profesi Ahli Epidemiologi, Juru Wabah yang Hits Selama Pandemi

 Sejak wabah COVID-19 merebak, profesi ahli epidemiologi semakin tak asing didengar. Namun, tidak sedikit yang juga belum memahami apa sebenarnya ilmu epidemiologi dan siapa yang bisa disebut ahli epidemiologi atau sebutan lainnya juru wabah.

Dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menjelaskan sebenarnya ilmu epidemiologi tak hanya mempelajari soal wabah saja. Namun, tiga hal dalam masalah kesehatan seperti frekuensi, distribusi dan determinan, apa itu?


"Ilmu yang mempelajari tentang frekuensi jumlah, distribusi penyebarannya, dan determinan, dan apa-apa saja yang menyebabkan terjadinya peningkatan frekuensi, atau penularan frekuensi dan bagaimana penyebarannya, determinan apa saja yang menyebabkannya," jelas Dr Pane saat dihubungi detikcom Selasa (24/11/2020).


Orang yang disebut sebagai ahli epidemiologi disebut Dr Pane harus sudah melalui pendidikan epidemiologi, baik di bawah fakultas kesehatan masyarakat maupun di bawah program pascasarjana kedokteran.


Lantas bagaimana yang tidak menjalani pendidikan tersebut?

"Kalaupun dia tidak mendapat pendidikan epidemiologi setidaknya dia mendapatkan materi epidemiologi secara adequat, ada berapa SKS yang harus didapatkan," sebut Dr Pane.


"Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) bersama Kemenkes juga melakukan pelatihan. Nah ini untuk mendapatkan SKS itu kan, pelatihan asisten epidemiologi di lapangan," lanjutnya.


Tak hanya lulus sarjana kedokteran

Dr Pane menegaskan bagi yang ingin melakukan praktik tak bisa hanya lulus sekolah kedokteran, ada beberapa persyaratan termasuk dari Kementerian Kesehatan RI. Salah satunya terkait surat tanda registrasi (STR).


"Itu harus ada persyaratan dari Kemenkes, dia harus lulus mengajukan surat utk mengajukan STR, surat tanda registrasi bahwa dia memang firm sah di-accepted oleh Kemenkes sebagai seseorang yang memenuhi syarat utk mendapatkan STR," sebut Dr Pane.


Ahli epidemiologi mendapatkan STR dari Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI).


Seorang ahli epidemiologi juga harus lulus uji kompetensi. Klik halaman selanjutnya untuk meneruskan.


Lulus uji kompetensi

"Ada banyak epidemolog yang dari lulusan epidemiologi tapi tidak lulus uji kompetensi maka dia tidak bisa mendapatkan STR," kata Dr Pane.


Mendapat SK

Dr Pane menyebut seseorang yang menjadi ahli epidemiologi harus mendapat SK dari institusi.


"Maka kalau saya mendapatkan SK atau ingin meniti jenjang sebagai seorang epidemiolog expertise saya harus epidemiologi dan biostatistik," jelas Dr Pane.


"Baru saya diakui oleh negara expert dalam bidang itu," sebutnya.


Jika di Kementerian Kesehatan RI, Dr Pane menyebut ada jabatan fungsional salah satunya epidemiologi kesehatan. Artinya, orang tersebut diberi SK atau kewenangan untuk melaksanakan pekerjaan sebagai epidemiologi kesehatan.


"Nah itu yang kita sebut sebagai ahli epidemiologi," pungkasnya.

https://nonton08.com/movies/stand-by-me-doraemon/


COVID-19 Belum Terkendali, Malaysia: Don't Balik Kampung!


 Seperti halnya negara lain di dunia, Malaysia juga masih bergelut dengan pandemi virus Corona COVID-19. Mengantisipasi pergerakan manusia, pejabat setempat sampai menyerukan: Don't balik kampung!

Seruan ini disampaikan direktur jenderal kesehatan Malaysia, Tan Sr Dr Noor Hisham Abdullah dalam sebuah konferensi pers. Pesan ini terkhusus disampaikan bagi warga yang berada di zona merah, dan dikecualikan ada urusan darurat.


"Well our advice is don't 'balik kampung'," katanya, dikutip dari The Star, Selasa (24/11/2020).


Malaysia memberlakukan pembatasan conditional movement control order (CMCO) yang melarang pergerakan warga antar distrik maupun negara bagian. Meski demikian, dalam praktiknya masih banyak warga yang bepergian.


Dikutip dari Worldometers.info, Malaysia hingga saat ini mencatatkan 56.659 kasus positif dengan kematian sebanyak 337 kasus. Jumlah pasien sembuh tercatat 42.480 kasus.

https://nonton08.com/movies/fast-furious-6/