Sabtu, 12 September 2020

5 Realitas Seks Sehari-hari yang Tak Pernah Muncul di Film Dewasa

 Film dewasa alias porno sudah pasti menjual fantasi, bukan kenyataan sehari-hari. Namun faktanya, banyak orang terpengaruh dan dalam kesehariannya sulit melepaskan diri dari fantasi tersebut.
Menuntut pasangan untuk memberikan performa seperti di film dewasa jelas tidak realistis. Ada banyak hal yang pastinya penuh rekayasa, dan dalam kehidupan nyata mustahil bisa terjadi.

Menurut laman spunout.ie, berikut perbedaan seks di film erotis dan dunia nyata:

1. Consent atau Persetujuan
Persetujuan untuk melakukan hubungan seks, jarang sekali muncul dalam film. Seakan-akan semua orang selalu siap untuk melakukan seks. Pada kenyataannya, semua orang yang melakukan hubungan seks, pastinya harus ada ajakan dan persetujuan dari kedua belah pihak. Jika salah satu sedang letih atau tidak mood, ya tentu saja tidak boleh memaksakan kehendak.

2. Ereksi non stop
Dalam film erotis, seks biasanya digambarkan dengan ereksi yang keras dan bertahan lama. Padahal dalam dunia nyata, pria kadang mengalami masalah ereksi dan ejakulasi dini.

3. Pemakaian kondom
Dalam film erotis, seringkali digambarkan pria yang melakukan seks, sama sekali tidak memakai kondom atau pengaman saat melakukan penetrasi. Padahal dalam dunia nyata, penggunaan kondom sangat penting untuk mencegah kehamilan dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

4. Bentuk tubuh
Pemain dalam film erotis selalu digambarkan memiliki lekuk tubuh yang indah. Padahal dalam dunia nyata, tak semua orang memiliki bentuk tubuh demikian. Oleh karena itu, cobalah untuk percaya diri dan berhenti membandingkan tubuh dengan orang lain.

5. Suara desahan
Dalam film erotis, suara desahan seringkali terdengar keras, seakan-akan si pemain sangat menikmatinya. Padahal dalam dunia nyata, tidak mendesah dengan keras, bukan berarti tidak menikmati sesi bercinta. Bahkan, desahan keras sebenarnya bisa saja menandakan seseorang sedang berakting dan pura-pura orgasme.

Ada yang Posting Kumpul-kumpul Sebelum PSBB? Begini Cara Menegurnya

 Akan berlakunya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) secara ketat di DKI Jakarta disikapi beragam. Sebagian orang malah mengadakan kumpul-kumpul 'perpisahan' di weekend terakhir ini.
Sudah pasti, risiko penularan virus Corona COVID-19 akan lebih besar dalam acara kumpul-kumpul. Apalagi tidak menerapkan protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan menggunakan masker.

Sungguhpun begitu, banyak juga yang tanpa merasa 'berdosa' memamerkannya di media sosial. Padahal menurut psikolog, posting foto kumpul-kumpul akan mempengaruhi kejiwaan orang yang melihatnya sehingga mendorong untuk ikut-ikutan.

"Orang abai bisa jadi karena bosan dan merasa terkekang," kata psikolog sekaligus konselor Nuzulia Rahma Tristinarum, saat dihubungi detikcom, Jumat (11/9/2020).

Jika ada teman di lingkaran pergaulan yang demikian, Rahma menyarankan untuk menegur dengan cara yang baik dan sopan. Namun ia menyadari, tidak semua orang bisa menerima teguran sekalipun dengan cara halus. Untuk itu, ada cara lain yang bisa dilakukan.

"Kita bisa melakukan cara lain dengan membuat komunikasi dan 'iklan' pada postingan-postingan media sosial kita tentang: pentingnya tetap pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, stay at home, keluar rumah hanya jika mendesak, dan lain lain. Intinya saling mengedukasi melalui postingan media sosial," saran Rahma.
https://indomovie28.net/the-h-cup-is-a-tiny-piece-of-chickens-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar