Akhirnya setelah summit menerjang jalur bebatuan dan climbing dengan sangat melelahkan, kami sampai puncak! dan di atas pun cuman kami berdua. Namun di jalur lain nampak rame, mungkin itu jalur Bambangan, dan ada juga jalur lain yang terlihat 1-2 kelompok, mungkin itu jalur Guci. Pas sampe puncak sekitar jam setengah 8 pagi, dan udara masih dingin sekali. Kami berdua hanya sempet cekrek sedikit lalu turun lagi.
Setelah itu kami memutuskan untuk turun. Karena jalur turun yang begitu luas dan tanda hanya dua bendera basarnas. Kami waktu itu tersesat saat mencari batas vegetasi, hampir memakan 3 jam dari puncak sampai menuju batas vegetasi!
Lucunya, pas turun kami mengitari gunung! dari jalur ujung kiri gunung sampai kanan! Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Mungkin pas waktu turun kami terlalu ke kiri sehingga harus melipir ke kanan untuk menemukan bendera basarnas.
Pelajaran bagi kalian yang ingin naik Slamet via Baturaden, jangan terlalu ke kiri saat turun dari puncak, agar tidak mengitari gunung saat turun. Namun saat kami mengitari gunung pas turun, kami menemukan mata air yang sangat segar yang berada di sekitar jalur summit, bentuknya seperti kolam kecil gitu. Wow!
Akhirnya setelah 3 jam mencari batas vegetasi, alhamdulillah kami menemukan dua bendera basarnas tersebut. Sungguh perjalanan yang banyak sekali menuai pengalaman he he. Dari situ, alhamdulillah kami turunnya lancar sampai kembali ke basecamp.
Di situ, kami dijemput sama mas Rio karena sesuai kesepakatan, jika kami sudah sampai di basecamp, kami menghubungi mas Rio agar dijemput dengan menggunakan motor kami yang dititipkan kepadanya.
Dan ingat, dikarenakan ini termasuk jalur baru Slamet via baturaden, harap memperhatikan jalur agar tidak tersesat. Tetap jaga kerendahan hati saat berada di alam semesta, jangan buang sampah sembarangan, selalu bertanggung jawab saat berkunjung ke tempat yang engkau pijak. Jangan lupa, Indonesia akan tetap indah sampai tua nanti.
Memulai Pendakian
Jalur yang berada di Slamet via Baturaden ini memang benar-benar masih tertutup, dalam artian masih banyak rumput-rumput ataupun tanaman-tanaman yang menghalangi jalan kakimu. Pohon-pohonnya pun masih terbilang asri, suara kicauan burung terdengar dimana-mana.
Yang lebih gila, waktu itu dari basecamp sampai puncak hanya ada kami berdua! Tidak ada pendaki lain. Sungguh nikmat pendakian yang sangat tidak boleh didustakan kala itu. Di situ ada 5 pos. Setiap pos dapat mendirikan tenda, karena terbilang lumayan luas untuk didirikan satu tenda saja. Namun menurut aku bisa juga didirikan sampe 5 tenda, itu pas di pos 4 dan 5.
Oh ya, hati-hati jika ingin mendaki lewat Baturaden, karena jalurnya yang terbilang tertutup dan lembab banyak lintah yang menempel di kaki. Sebaiknya memakai sepatu dan celana panjang agar terhindar dari lintah. Namun jika terlanjut menempel, bisa dibakar saja lintahnya biar lepas dari kaki. Dan aku gak ngefoto setiap pos karena baterai kamera hape udah abis duluan.
Di pos 2, nanti bakal nemuin mata air. Kalo kata mas Rio, sebaiknya nanti ngecampnya di pos 4 saja, namun karena kami sudah lelah maka kami mendirikan tenda di pos 3, sekitar jam 8 malem kami sudah sampe pos 3 dan mendirikan tenda untuk beristirahat.
Pada saat itu cuaca cerah sekali, bintang bertebaran dimana-dimana, bulan nampak begitu memperlihatkan cahayanya, dan tidak ada pendaki lain selain kami. Begitu sunyi, begitu sepi. Kami pun bangun untuk melanjutkan pendakian.
Pukul 2 pagi kami mulai summit untuk menuju puncak. Masih ada pos 4 dan 5 yang harus disambangi. Di pos 4 kami menemukan mata air lagi. Dari pos 5 belum terlalu terbuka alias masih tertutup pohon-pohon, lalu setelah melewati pos 5 batas vegetasi sudah terlihat, di situ ada tanda dua bendera basarnas berwarna merah dan biru. Dan jalur ke puncak dipenuhi bebatuan dan pasir, wow! aku begitu rada merinding. Terlebih hanya kami berdua waktu itu tidak ada orang lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar