Senin, 20 Januari 2020

Sensasi Mendaki Gunung Slamet via Jalur Baturaden

Mendaki Gunung Slamet bisa lewat jalur Baturaden. Sensasinya beda, pemandangannya juga. Layak banget buat dicoba!

Pagi itu sekitar jam 8. Aku sama temanku packing untuk siap-siap melakukan perjalanan menuju Gunung Slamet via Baturaden. Dari kosan temanku, tepatnya di daerah Arcawinangun dekat Kampus Unsoed, kami naik motor ke Baturaden.

Dari Googling kami dapat informasi kalau menuju ke basecamp Slamet via Baturaden harus menuju ke Kebun Raya Baturaden terlebih dahulu, maklum kami berdua emang belum pernah sama sekali naik Slamet via Baturaden jadi masih miskin informasi.

Temanku sih udah pernah naik Slamet tapi via Bambangan. Akhirnya kami memutuskan untuk meluncur dulu ke Kebun Raya Baturaden. Sesampainya di depan pintu gerbang Kebun Raya Baturaden, kami bilang kalau mau naik Slamet via Baturaden.

Nah dari penjaga dikasih contact person, kata dia kalau mau naik Slamet via Baturaden harus menghubungi nomer itu dulu. Setelah itu kami masuk ke kebun raya. Pas nyampe di tempat yang dikira kami basecamp, tempat itu ada rumah kayunya, ternyata di situ ada orang laki-laki memberhentikan kami, lalu bilang,

"Mas, harus menghubungi Radenpala dulu. Sedangkan basecamp Radenpala bukan disini melainkan di Hotel Kemangi, itu terletak di dekat lokawisata Baturaden," katanya.

Mau gak mau, kami harus keluar lagi dari kebun raya. Namun setelah kami cari-cari tidak ada yang namanya Hotel Kemangi. Wah kami dikibulin nih, aku sempat berpikir seperti itu. Namun kami cari yang namanya rada mleset dikit, di situ ada Hotel Kemuning.

Dan benar, di situ kami dikasih nomer lagi, akhirnya kami menghubunginya dan nyambung. Itu nomernya mas Rio, yang membantu kami buat mendaki Slamet via Baturaden. Akhirnya kami ketemu sama Mas Rio, dan diantar ke tempat yang ada rumah kayunya tadi. Setelah itu motor kami di titipkan kepada mas Rio dan kami melanjutkan pendakian menuju Slamet via Baturaden.

Memulai Pendakian

Jalur yang berada di Slamet via Baturaden ini memang benar-benar masih tertutup, dalam artian masih banyak rumput-rumput ataupun tanaman-tanaman yang menghalangi jalan kakimu. Pohon-pohonnya pun masih terbilang asri, suara kicauan burung terdengar dimana-mana.

Yang lebih gila, waktu itu dari basecamp sampai puncak hanya ada kami berdua! Tidak ada pendaki lain. Sungguh nikmat pendakian yang sangat tidak boleh didustakan kala itu. Di situ ada 5 pos. Setiap pos dapat mendirikan tenda, karena terbilang lumayan luas untuk didirikan satu tenda saja. Namun menurut aku bisa juga didirikan sampe 5 tenda, itu pas di pos 4 dan 5.

Oh ya, hati-hati jika ingin mendaki lewat Baturaden, karena jalurnya yang terbilang tertutup dan lembab banyak lintah yang menempel di kaki. Sebaiknya memakai sepatu dan celana panjang agar terhindar dari lintah. Namun jika terlanjut menempel, bisa dibakar saja lintahnya biar lepas dari kaki. Dan aku gak ngefoto setiap pos karena baterai kamera hape udah abis duluan.

Di pos 2, nanti bakal nemuin mata air. Kalo kata mas Rio, sebaiknya nanti ngecampnya di pos 4 saja, namun karena kami sudah lelah maka kami mendirikan tenda di pos 3, sekitar jam 8 malem kami sudah sampe pos 3 dan mendirikan tenda untuk beristirahat.

Pada saat itu cuaca cerah sekali, bintang bertebaran dimana-dimana, bulan nampak begitu memperlihatkan cahayanya, dan tidak ada pendaki lain selain kami. Begitu sunyi, begitu sepi. Kami pun bangun untuk melanjutkan pendakian.

Pukul 2 pagi kami mulai summit untuk menuju puncak. Masih ada pos 4 dan 5 yang harus disambangi. Di pos 4 kami menemukan mata air lagi. Dari pos 5 belum terlalu terbuka alias masih tertutup pohon-pohon, lalu setelah melewati pos 5 batas vegetasi sudah terlihat, di situ ada tanda dua bendera basarnas berwarna merah dan biru. Dan jalur ke puncak dipenuhi bebatuan dan pasir, wow! aku begitu rada merinding. Terlebih hanya kami berdua waktu itu tidak ada orang lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar