Pulau Nami adalah destinasi liburan favorit di Korea Selatan. Pulau ini sungguh cantik, meski bukan di musim gugur atau musim dingin.
Pulau Nami berjarak 54,3 km dari Kota Seoul dan dapat ditempuh selama 2 jam dengan naik mobil atau bus. Pulau Nami dikelilingi Sungai Han yang memang panjang dan luas. Sungai ini membentang bahkan sejak traveler belum jauh keluar dari Bandara Incheon.
Untuk menyeberang ke Pulau Nami, traveler harus membeli tiket di dermaga dan menyeberang dengan ferry selama 10 menit. Jika dilihat dari atas, Pulau Nami berbentuk seperti bulan.
Seperti negara dengan empat musim lainnya, Korea Selatan khususnya di Pulau Nami pun memiliki wajah yang berbeda di tiap musimnya. Umumnya, Pulau Nami menunjukkan keindahannya yang paling terkenal saat musim gugur dengan pohon-pohon mapple berwarna merah, emas, dan kuning yang indah, atau saat memasuki musim dingin dengan salju-salju yang cantik dan syahdu. Atau saat musim bunga sakura mekar pun, Pulau Nami sangat cantik dengan keindahannya.
Namun, jika traveler berkesempatan berkunjung di luar musim-musim seperti yang disebutkan di atas, jangan sedih karena Pulau Nami tetap menunjukkan keindahannya khas peralihan musim semi ke musim panas.
Pepohonan yang serba hijau menyegarkan, bunga-bunga yang bermekaran, serta udara sejuk namun mulai hangat saat siang sangat sempurna untuk menemani jalan-jalan santai traveler dan keluarga di Pulau Nami.
Duduk santai sambil membaca buku di kolam-kolam dengan air jernih dan tenang, piknik bersama keluarga di taman-taman dengan bunga yang indah, patung-patung ikonik yang unik, serta aktivitas bersepeda mengelilingi pulau dengan pepohonan yang tumbuh hijau sempurna adalah aktivitas menyenangkan di musim ini.
Bagi traveler yang tidak membawa sepeda tak perlu khawatir karena sepeda bisa disewa di Bike Centre di samping UNICEF Hall. Tapi, jika ada kesempatan dan rezeki, tentu mengunjungi Pulau Nami di setiap musim yang berbeda adalah suatu kepuasan tersendiri.
Sensasi Mendaki Gunung Slamet via Jalur Baturaden
Mendaki Gunung Slamet bisa lewat jalur Baturaden. Sensasinya beda, pemandangannya juga. Layak banget buat dicoba!
Pagi itu sekitar jam 8. Aku sama temanku packing untuk siap-siap melakukan perjalanan menuju Gunung Slamet via Baturaden. Dari kosan temanku, tepatnya di daerah Arcawinangun dekat Kampus Unsoed, kami naik motor ke Baturaden.
Dari Googling kami dapat informasi kalau menuju ke basecamp Slamet via Baturaden harus menuju ke Kebun Raya Baturaden terlebih dahulu, maklum kami berdua emang belum pernah sama sekali naik Slamet via Baturaden jadi masih miskin informasi.
Temanku sih udah pernah naik Slamet tapi via Bambangan. Akhirnya kami memutuskan untuk meluncur dulu ke Kebun Raya Baturaden. Sesampainya di depan pintu gerbang Kebun Raya Baturaden, kami bilang kalau mau naik Slamet via Baturaden.
Nah dari penjaga dikasih contact person, kata dia kalau mau naik Slamet via Baturaden harus menghubungi nomer itu dulu. Setelah itu kami masuk ke kebun raya. Pas nyampe di tempat yang dikira kami basecamp, tempat itu ada rumah kayunya, ternyata di situ ada orang laki-laki memberhentikan kami, lalu bilang,
"Mas, harus menghubungi Radenpala dulu. Sedangkan basecamp Radenpala bukan disini melainkan di Hotel Kemangi, itu terletak di dekat lokawisata Baturaden," katanya.
Mau gak mau, kami harus keluar lagi dari kebun raya. Namun setelah kami cari-cari tidak ada yang namanya Hotel Kemangi. Wah kami dikibulin nih, aku sempat berpikir seperti itu. Namun kami cari yang namanya rada mleset dikit, di situ ada Hotel Kemuning.
Dan benar, di situ kami dikasih nomer lagi, akhirnya kami menghubunginya dan nyambung. Itu nomernya mas Rio, yang membantu kami buat mendaki Slamet via Baturaden. Akhirnya kami ketemu sama Mas Rio, dan diantar ke tempat yang ada rumah kayunya tadi. Setelah itu motor kami di titipkan kepada mas Rio dan kami melanjutkan pendakian menuju Slamet via Baturaden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar